Back to: Immune Booster Aromatherapy Perfume + BONUS Hand sanitiser COVID-19 sesuai pedoman WHO
0
OBAT KONVENSIONAL
Dari segi medis, sampai saat ini untuk proses penyembuhan seorang pasien sebagian besar memang masih menggunakan obat konvensional. Obat-obatan tersebut memang sudah memiliki ijin dari badan kesehatan dunia (WHO).
Obat konvensional memiliki referensi yang kuat dari dunia. Karena obat itu sebelum dikeluarkan untuk dipakai pada pasien harus melalui proses penelitian dan uji klinis yang panjang, bisa 10 sampai 20 tahun. Pertama diujikan pada binatang baik yang sehat atau sakit, setelah berhasil baru diujikan pada manusia sehat. Dari situlah dapat diketahui bagaimana farmakologi obat, manfaat, efek samping, indikasi dan kontraindikasi obat tersebut, karna telah melalui proses penelitian yang panjang oleh berbagai ahli. Jika dalam uji klinis yang panjang tersebut salah satunya ada yang gagal maka obat tersebut belum mendapatkan ijin, jadi obat yang sudah disetujui oleh WHO itu harus benar-benar efektif dan aman untuk dikonsumsi manusia.
Berikut ini adalah gambaran fase penelitian suatu obat sebelum akhirnya diedarkan ke pasaran.
Masyarakat sering salah beranggapan kalau obat konvensional itu efek sampingnya banyak, hal ini jelas kurangnya pengetahuan masyarakat tentang obat, justru karena melalui penelitian yang panjang akhirnya diketahui efek sampingnya, selama efek tersebut tidak berbahaya dan lebih kecil dari manfaat obatnya kenapa tidak digunakan, dan juga efek samping tidak selalu muncul pada setiap orang.
Dari segi harga bervariasi, namun obat konvensional sedikit lebih mahal karena diolah dengan menggunakan teknologi yang canggih serta melalui berbagai macam penelitian yang dilakukan oleh para ahli kedokteran dan farmasi. Namun jangan kuatir masalah harga, karena jaman sekarang ada obat generik yang harganya jauh lebih murah dan efektivitasnya tak kalah dengan obat paten.
Sebenarnya obat konvensional pun berasal dari bahan tradisional yang diambil bahan aktifnya, sehingga merupakan bahan obat murni. Efek pengobatannya berlangsung cepat mengurangi keluhan pasien. Obat diberikan dengan tujuan tertentu. Ada yang sifatnya kuratif yaitu menyembuhkan misalnya antibiotik untuk menyembuhkan penyakit akibat infeksi bakteri. Ada yang sifatnya simptomatik yaitu mengurangi gejalanya, misalnya paracetamol untuk menurunkan demam. Ada juga yang sifatnya paliatif, yaitu pengobatan yang fungsinya untuk mengurangi penderitaan pasien saja karena penyakit pasien yang tidak bisa disembuhkan seperti kanker stadium akhir.
Beberapa orang awam terkadang mengobati diri sendiri dengan mengkonsumsi obat racikan dengan membeli sendiri obat di apotek, hal inilah yang meningkatkan efek samping obat karena tidak diminum sesuai aturan apalagi kalo obat tersebut dicampur dengan obat herbal atau jamu, bisa terjadi reaksi obat yang tidak diinginkan.
Berkonsultasilah dengan dokter apakah obat yang anda minum saling berinteraksi atau tidak. Jangan sampai obat yang anda minum memiliki efek yang sama sehingga terjadi kelebihan dosis yang mengakibatkan meningkatkan efek samping.
Tidak semua masalah kesehatan dapat diatasi dengan pengobatan konvensional, dalam kenyataannya saat ini pengobatan tradisional telah dimanfaatkan oleh masyarakat secara luas. Memperhatikan hal tersebut di atas dan terjadinya pergeseran pola penyakit dari infeksi ke degeneratif, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran, mengakibatkan kebutuhan dan tuntutan masyarakat terhadap pelayanan pengobatan yang berkualitas.
Hendaknya masyarakat tahu keuntungan dan kerugian penggunaan obat konvensional maupun obat tradisional, sehingga dapat memilih dengan tepat mana obat yang sesuai dengan kebutuhan, bahkan kombinasi dimungkinkan selama tidak ada interaksi obat.
AROMATERAPI VS OBAT KONVENSIONAL

Aromaterapi dianggap lebih aman dibandingkan obat kimia sintetik karena minyak atsiri yang digunakan berasal dari bahan alami yang walaupun bekerja relatif lebih lambat namun efek sampingnya jauh lebih kecil dan tidak menimbulkan ketergantungan serta gejala putus obat asalkan digunakan sesuai indikasi, dosis, dan lama waktu pemakaiannya
Karena Aromaterapi itu bahan baku yang digunakan adalah Essential Oil atau Konsentrat dari tumbuhan yang dibuat oleh proses alam, tanpa melibatkan rekayasa atau zat-zat sintetik.
Tubuh manusia sendiri juga ada proses alamiah nya, sehingga bahan alam yang masuk ke tubuh selama dia dibutuhkan oleh tubuh maka akan digunakan, dan jika tidak dibutuhkan akan dibuang lewat urine ( air kencing atau tinja atau keringat atau udara pada saat membuang nafas) selama kelebihannya DALAM BATAS TOLERANSI TUBUH.
Jika Essential Oil yang dikonsumsi melebihi batas toleransi tubuh memang akan ada kemungkinan muncul efek samping, tetapi biasanya kemungkinannya sangat kecil bahkan hampir tidak ada. Dan yang terpenting TIDAK MENIMBULKAN EFEK KETERGANTUNGAN, atau gejala putus penggunaan obat
Obat Konvensional, kita ambil contoh Antibiotik, kadang dapat menimbulkan reaksi sensitivitas atau alergi pada beberapa orang seperti gatal-gatal segera setelah antibiotik di konsumsi, sampai pada reaksi shock anafilaktik dan kematian.
Sedangkan Essential Oil JIKA DIGUNAKAN SESUAI DOSIS DAN FUNGSINYA tidak akan menimbulkan efek samping. Itulah gunanya diadakan kursus ini sebagai dasar panduan dalam menggunakan Essential Oil.
Antibiotik juga dapat menimbulkan reaksi resistensi. Jika kita menggunakan antibiotik yang sama dalam kurun waktu lebih dari 2 minggu untuk mengobati suatu penyakit, atau membunuh bakteri. Maka bakterinya akan bermutasi membuat lapisan pelindung terhadap antibiotik yang sama tersebut hingga pada akhirnya antibiotik tersebut tidak bisa membunuh bakteri yang sama.

Sedangkan Essential Oil dalam 1 tetesnya merupakan konsentrat dari suatu tanaman yang bisa mengandung lebih dari 200 senyawa aktif. Jadi seandainya bakteri tersebut resisten dengan beberapa zat aktif dari essential oil itu (misalnya resisten terhadap 50 zat aktifnya), ia masih bisa dibunuh oleh sisa zat aktif lainnya (150 zat aktif lainnya).
Pernahkan anda menggunakan obat atau produk perawatan yang apabila tidak digunakan lagi maka gejala awal sebelum menggunakan akan muncul? Hal itu dinamakan gejala putus obat.
Misalnya : Wajah anda jerawatan lalu Anda menggunakan krim anti acne dan jerawat hilang, wajah anda mulus.. tappi begitu anda tidak menggunakan krim yang sama lagi maka jerawat anda akan muncul lagi bahkan kadang dengan kondisi yang lebih parah. Gejala putus obat ini dapat ditimbulkan oleh obat konvensional yang mengandung STEROID.
Pada Essential oil yang digunakan sebagai Aromaterapi, jika tidak menggunakannya lagi maka tidak akan menimbulkan efek apapun ditubuh anda. Justru kita dianjurkan menghirup essential oil yang berbeda, berganti setiap 3 minggu.
Mengapa begitu ?
Temukan jawabannya pada modul berikut ini…
Jika ada yang ingin ditanyakan silahkan KLIK TOMBOL INI :

Untuk mengakses materi selanjutnya silahkan klik tanda MARK AS COMPLETE yang berwarna merah jambu dibawah ini…


